CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Minggu, 18 Oktober 2009

5 Tips agar Menulis jadi Mudah


Seringkali dari kita bila sedang membuat suatu tulisan, apakah itu bersifat ilmiah ataupun juga non ilmiah, beban perasaaan yang membelenggu dari beberapa faktor seperti rasa takut yang berlebihan terhadap tulisan kita sendiri, biasanya yang paling umum rasa tidak percaya diri akan ‘kebenaran’ dan ‘kekuatan’ dari apa yang kita tulis. Hal itu sangat wajar terjadi, apalagi sebagian dari kita memang bukan berasal dari latar belakang penulis atau jurnalis. Tapi satu hal yang perlu diingat adalah, menulis merupakan ketrampilan dasar yang bahkan seorang anak sekolah dasar pun mampu melakukannya. Rasa beban tersebut terjadi justru saat kita sudah punya banyak pengalaman dan pengetahuan, karena disitulah sumber utama masalahnya. Semakin pintar diri kita pasti berbanding lurus dengan semakin banyakanya analisa dan logika yang dominan di kepala kita.

Beda dengan orang yang punya sedikit pemikiran, kemungkinan besar ia akan bisa menulis dengan beban yang ringan karena yang banyak berperan adalah sisi kreatifnya di otak kanan yang tidak terlalu peduli dengan analisa logika otak kiri. Beberapa tips yang mungkin bisa kita terapkan untuk mendobrak belenggu dalam semangat menulis antara lain :

1. Menulis adalah Kesenangan, bukan hanya games atau nonton bioskop saja yang bisa bikin kita senang, imajinasikan saat jemari kita menulis saat itulah sebenarnya kita sedang ‘bermain’ dengan kata-kata terangkai. Tidak perlu khawatir bahkan bila kosa kata kita agak berantakan, yang penting
setiap huruf mengalir begitu saja sesuai dengan perasaan yang kita ciptakan tadi, menulis adalah kesenangan.

2. Menulis adalah Berbicara, ini agak aneh memang, tapi saat kita menulis coba khayalkanlah bahwa kita ’sebenarnya’ ini sedang ngobrol dengan teman-teman kita. Saat imajinasi itu terjadi, saat itu pula kata - kata akan meluncur dengan deras layaknya sedang berbicara dengan teman-teman. Jarang sekali kita terlalu banyak berpikir sebelum berucap saat sedang ngobrol. Semuanya berlangsung spontan dan lugas.

3. Menulis berarti Berbagi, seperti halnya amal, setiap tulisan karya kita, sedikit banyak pasti dan harusnya bermanfaat untuk orang lain. Itulah sebenarnya kunci utama dalam kegiatan menulis. Kita membuat tulisan dan orang lain membacanya. Ada hubungan tidak langsung antara apa yang kita berikan dalam bentuk tulisan dengan kemajuan atau kesuksesan orang yang membacanya. Tidak selalu harus uang untuk beramal, tulisan juga bisa kok.

4. Menulis berarti Membebaskan, dalam tulisan fiksi berupa cerpen atau novel, kita mendapat kesempatan yang sangat luas dalam berekspresi. Seorang penulis fiksi bebas berimajinasi terhadap keadaan, sang tokoh, alur cerita dll. Dalam kata lain, saat Anda menulis cerita, Anda adalah ’sang pencipta’. Ekspresikan diri kita sepuasnya karena ranah ini benar- benar milik kita.

5. Menulis berarti Hidup, mirip sebuah iklan rokok, “bikin hidup lebih hidup”, mungkin seperti itulah perumpamaannya. Saat kita melakukan kegiatan tulis menulis saat itu pula kita seakan digiring ke sebuah fenomena aktualisasi diri. Menulis berarti menghidupkan jiwa kita dalam bentuk karya tulis. Menulis tidak hanya sekedar kegiatan layaknya makan minum, tapi lebih bermakna dalam, utamanya seperti bernafas, sudah menjadi bagian diri kita. Menulis adalah kehidupan kita.

Saat saya menulis posting ini, sebenarnya sudah dalam keadaan ngantuk berat, hehehe maklum sudah tengah malam. Tapi itu tidak sedikitpun menyurutkan semangat saya untuk mengupdate Blog ini. Sesuai dengan 5 Tips tadi, benar-benar saya terapkan saat saya sedang menulis postingan ini. Hasilnya adalah postingan ini bisa selesai ( sambil kepala naik turun ‘meladeni’ kantuk). Jadi jaga terus semangat Anda untuk tetap menulis karena ini mungkin salah satu jembatan kita untuk saling mengenal dan berteman. Menulis sebanyak mungkin dan saling memberi semangat ! Ada yang ingin menambahkan ? Silahkan.

Kamis, 06 Agustus 2009

DI LADANG TEBU (part 1)

Di Ladang Tebu
Karya Anifatun Mu’asyaroh

Musim gugur hampir berlalu. Angin musim dingin mulai bertiup menggelitik bulu kuduk dan hamparan ilalang di ladang tebu. Dari kejauhan terdengar suara ratusan langkah kaki yang makin lama makin mendekat, menggemparkan kediaman para makhluk pelompat yang sedang nyaman mendengkur di bawah terpaan cahaya bulan malam ke-13 di sana.
Perlahan tapi pasti, satu per satu dari mereka terjaga lalu berteriak seenaknya, "Wibik...wibik..." Sekarang, suara langkah kaki telah digantikan oleh riuhnya konser yang dimeriahkan musisi-musisi amfibi, membawakan theme song andalan mereka, "Wibik...wibik..." Mereka berlompatan ke sana ke mari, padahal tak ada yang mendekati. Mungkin insting mereka jauh lebih peka dari perkiraan para manusia ladang.
Sementara itu, sekitar dua puluh meter dari ladang tebu tempat para katak itu bisaa beraktivitas dan istirahat, ratusan pasang mata manusia mengintai mereka. Beberapa menit lagi, perburuan hewan amfibi ini resmi dibuka. Pesertanya tak lain tak bukan adalah ratusan pengintai ladang tadi. Berbagai senjata seperti cangkul, pisau, sapu jerami, hingga samurai telah mereka genggami. Bumerang kecil pun tak luput dijadikan benda pamungkas. Tatapan mereka --yang kebanyakan adalah petani-- tajam, teliti dan terpusat pada ladang tebu.
Kini hanya tinggal menunggu tanda, dan mereka telah siap melakukan penyerangan dan mengayunkan benda-benda di genggamannya seasyik bermain yoyo. “Priiiit...” Lalu seluruh manusia bersenjata berhamburan ke ladang melancarkan aksi.
*****
Dahinya berkerut, sehingga dapat menahan sebulir keringat yang meluncur lincah dari kepala botaknya. Meski keringat bercucuran, tapi Profesor Keynes tetap kekeuh menempelkan matanya pada lensa okuler mikroskop elektron. Objek pengamatannya adalah gumpalan kecil berinti hitam dan diselimuti lendir bening yang telah ia jadikan preparat. Entah spesies apa yang sedang ia teliti. Namun, yang pasti ini adalah suatu proyek besar sebagai bentuk sumbangannya bagi khazanah ilmu pengetahuan.
Sementara sang profesor asyik bekerja, di ruangan yang sama, ada sesuatu yang mengawasi setiap inci gerakan profesor di setiap detiknya. Jika profesor mengerutkan dahi, ia pun akan semakin serius mengamati. Jika profesor tertawa, ia ikut menari berputar di dalam kotak akuariumnya. Ia adalah seekor kecebong berumur tiga hari.
Sepanjang 3 hari hidupnya ia tak pernah melihat danau, sawah, rawa, got atau tempat-tempat semacam itu yang bisaanya merupakan tempat lahir, tanah air para kaumnya. Kecebong ini lahir dan tumbuh di akuarium profesor Keynes bersama sekitar seratus ekor saudaranya. Bahkan, ia tak punya nama. Menamai mereka satu per satu bukanlah ide bagus. Apalagi profesor sendiri sedang sibuk meneliti seluk beluk leluhur kecebong itu. Alhasil, ia pun menamai dirinya sendiri "Nana", sebab ia suka bersenandung dalam air. Satu-satunya hobi Nana adalah memperhatikan profesor. Hobi yang oleh saudara-saudaranya dianggap aneh dan membuang-buang waktu.
Di film-film kartun, anak burung yang baru menetas akan menganggap sosok pertama yang dilihatnya sebagai induknya, meskipun sosok itu adalah seekor kucing. Tampaknya, hal ini pula yang terjadi di pada Nana. Ia begitu menyayangi profesor yang sering berada di dekatnya.
Suatu hari, bertepatan dengan lima hari umur Nana, seorang wanita asing datang ke laboratorium. Dia memakai baju safari coklat, bertopi lebar dan tampaknya datang dari tempat jauh. Kedatanganya adalah untuk mendiskusikan satu hal serius dengan profesor. Namanya Sandra.
"Bagaimana perkembangan penelitianmu, Prof?" tanya Sandra kepada profesor yang sedang menulis suatu kajian ilmiah. Profesor berhenti menulis. Dibetulkannya letak kacamata perseginya yang melorot. Lalu ia menghirup nafas panjang, menahannya beberapa detik sebelum kemudian ia hembuskan.
Hening sejenak dan akhirnya ia pun menjawab sambil membelai dagunya yang tak berjenggot, "Hmm... Sandra, setelah kuteliti lebih lanjut, kematian buaya-buaya di rawa itu disebabkan oleh Cane toad."
Sandra diam. Wajahnya tampak serius berpikir, "Begitu? Tapi, bagaimana mungkin? Mereka sangat membantu para petani. Sejak tahun 1935, mereka sengaja diimpor dari benua Amerika untuk membasmi hama kumbang yang menyerang tanaman tebu di Queensland. Kini mereka telah beranak pinak di seantero Australia. Bagaimana mungkin mereka bisa membunuh para buaya-buaya itu?"
Di dalam akuarium, Nana mendengarkan percakapan itu dengan seksama. ‘Apa itu Cane toad? Queensland? Amerika? Nama-nama apa itu?’ Pertanyaan-pertanyaan itu bermunculan di kepala Nana. Ia pun semakin antusias memperhatikan dua makhluk besar yang tidak hidup di air itu.
"Sandra. Katak-katak ini mempunyai sistem pertahanan diri yang kompleks. Satu bulan penelitianku terhadap Cane toad, ternyata membuahkan fakta baru. Mereka berbeda dengan katak-katak jenis lain, sebab ada semacam kantung beracun yang tersembunyi di balik kaki depannya. Zat-zat mematikan yang kutemukan dalam sampel buaya itu sama dengan racun yang ada di dalam kantung katak itu," je-
las profesor panjang lebar.
Kenyataan itu membuat Sandra tercengang. Tampaknya ia tak menyangka bahwa katak-katak yang panjangnya bisa mencapai 20 cm itu adalah kunci penyebab ketidakstabilan ekosistem di sekitar hutan dan ladang tebu. Perlahan-lahan ia mulai bicara lagi, "Saya mengerti, Prof. Populasinya yang begitu pesat satu dekade terakhir, bahkan hingga ke daerah rawa di hutan, memang cukup membuat saya bertanya-tanya. Apakah tak ada predator yang mau menyantap katak-katak itu? Ternyata mereka mati sebelum berhasil memangsanya. Lalu, Prof, apa mereka berbahaya bagi manusia?"
Si kecebong masih serius memperhatikan mereka. Meskipun ia mendengarkan tiap kalimat percakapan itu, tapi tak sedikit pun ia memahami maknanya. Kapasitas memori pikirannya kecil, sekecil tubuhnya.
*****
Esoknya, Nana berharap agar Sandra datang lagi dan mengatakan hal-hal lain yang lebih mudah untuk dipahami olehnya. Ia menyukai Sandra sejak awal melihatnya. Sandra adalah orang pertama yang menyapanya --menyapa mereka tepatnya-- dengan mengobok-obok akuarium. Padahal, saat itu Sandra hanya berniat merendam kelingkingnya yang sedikit melepuh karena tercelup ke dalam secangkir kopi panas.
Ckrrk... Pintu terbuka, lalu melangkah seorang anak laki-laki kecil memakai seragam TK. Anak kecil itu mengendap-endap lirih di dalam laboratorium. Ia berhenti tiba-tiba di depan akuarium lalu berteriak, "Mak... Emak! Ada ikan kecil-kecil belenang, Mak! Banyak! Ada sejuta! Di sini mak!" Suaranya yang cempreng mengagetkan Nana dan membuat gaduh seisi rumah.
"Wah, suara itu menggetarkan dunia!" kata Nana kepada seekor ikan koi bersirip kuning yang berada di dekatnya. Akuarium adalah dunia baginya.
"Iya. Aku takut suaranya menimbulkan polusi di dunia kita," jawab ikan mas itu.
"Apa itu polusi?" tanya Nana dengan penuh penasaran.
Si ikan tampak bingung saat ditanya balik, lalu dia pun menjawab, "Hmm... Profesor berkata seperti itu 7 hari yang lalu saat memandang kotak kaca itu." Mata bulatnya melotot ke arah televisi.
"Aku hanya mengutip kata-katanya. Hehe..." imbuh si ikan.
"Tujuh hari lalu? Umurku saja baru enam hari. Kalau begitu kau lebih tua dariku. Berapa umurmu?"
Si ikan berenang berputar di tempat sebanyak tiga kali yang menandakan ia sedang berpikir. Lalu ia menjawab, "Aha... biar kutanyakan pada emakku."
"Emak? Apa itu emak? Manusia kecil itu juga menyebutkan emak tadi," tanya Nana membabi buta.
"Emak itu orang yang lebih tua darimu. Dia tahu segala hal yang tak kau ketahui," jawab si ikan.
"Kalau begitu kau emakku?"
"Aku? Entahlah. Sepertinya tampang kita berdua berbeda. Kau
begitu hitam legam dan mulus. Sedangkan aku, indah, berkilau tapi bersisik. Ah... sudahlah biar kutanya emakku yang ada di dunia seberang!" jawab ikan.
Lalu ia meninggalkan Nana menuju sebuah akuarium lebih besar yang berada di samping akuarium mereka. Nana terus mengawasinya hingga si ikan sampai di perbatasan "dunia" dan bertatap muka dengan seekor ikan mas koi super besar. Si ikan menggunakan bahasa tubuh untuk berkomunikasi dengan ikan besar itu. Tak lama kemudian, si ikan koi kecil bersirip kuning pun berbalik dan menemui Nana.
"Sudah kudapatkan jawaban. Kata emakku, aku menetas saat bulan bulat sempurna dan nanti malam adalah bulan bulat sempurna keduaku. Jadi umurku adalah satu bulan. Hahaha!"
"Oh... Lalu kau siapa?" tanya Nana.
"Aku? Namaku Sybil kau Nana bukan? Dan satu lagi, aku bukanlah emakmu. Kata emakku, emakmu adalah orang yang melahirkanmu. Eit... Jangan bertanya soal emakmu lagi padaku!" kata ikan itu yang ternyata bernama Sybil seolah-olah bisa membaca pikiran Nana.
"Oh...Baiklah, Sybil. Lalu, mengapa emakmu ada di dunia yang lain?"
"Entahlah. Profesor memisahkan kami sesaat setelah aku menetas."
"Lalu..." kata-kata Nana terhenti setelah terdengar suara berisik menuju laboratorium. Pintu terbuka, lalu muncul profesor dan seorang manusia bertutup kepala panjang hingga terjuntai menutupi dada.
"Aduh... Elu ya, Dul! Udah emak bilangin ratusan kali tetep aje nakal! Jangan masuk ruangan Mister Propesor! Bagimane kalo ntu barang-barang pade pecah? Pan bisa berabe ntu urusanye! Maapin, anak aye yah, Mister!" kata manusia bertutup kepala itu sambil menaboki anaknya dengan lembut.
"Hahaha... Tidak apa-apa. Saya suka dengan anak kecil yang rasa ingin tahunya besar. Apalagi setiap melihat Abdul, saya jadi ingat anak saya" kata Profesor Keynes.
"Terime kasih, Mister. Mister kagak marah same ni Bedul yang ban-
del. Oh iye, aye do'ain semoge Mister bisa cepet ketemu anaknye di Australie. Amin... Ya udeh, kami ke dapur dulu, Mister, mau masak makan siang. Ayo, Dul!"
"Mpok, bagaimana kalau Abdul di sini saja dulu?" pinta profesor.
"Kagak ape-ape nih? Ntar kalo ganggu Mister bagimana?"
"Kagak ape-ape, Mpok! Haha..." jawab Profesor menirukan logat Mpok Ijah.
"Ah! Mister bise-bise aje! Ya udeh, aye turun. Permisi!"
Mpok Ijah keluar dari laboratorium. Pintu tertutup. Profesor mendekati Abdul, lalu berkata, "Dul, binatang ini namanya kecebong atau berudu, bukan ikan."
Abdul tampak mengerti, lalu ia bertanya, "Meleka saudalanya ikan, ya, Mistel?"
"Hahaha... No, son! Mereka adalah anak-anak katak. Kau tahu katak bukan?"
"Waaah... Kelen! Kok meleka tidak punya kaki?"
"Tentu saja mereka punya. Hanya saja belum tumbuh. Suatu saat nanti mereka akan bermetamorfosis menjadi katak dan hidup di darat. Kau mengerti, Nak?" tanya profesor.
Abdul mengangguk pelan. Tak jelas apakah ia mengerti atau tidak, tetapi yang pasti Nana lah yang sedang bergembira saat ini. Ia tahu siapa dirinya sekarang. Ia tahu leluhurnya. Ia adalah Putra sang Katak!
"Kau tahu Sybil? Aku adalah Putra Katak! Seperti apa katak itu, Sybil?" tanyanya. Belum sempat dijawab, dia sudah berkata lagi, "Eh... Katak? Hah?? Katak? Aku..." tiba-tiba ia berhenti bicara. Kegembiraannya meluntur seiring semakin pelan suaranya.
"Ada apa, Na?" tanya Sybil tampak heran.
"Aku anak seorang pembunuh!

(bersambung)

Sabtu, 07 Maret 2009

Anonim

Buku yang paling bermanfaat adalah buku yang paling membuat kamu berpikir (Theodore Parker)
.
Orang yang bijaksana mempelajari banyak hal dari musuhnya (Aristophanes)
.
Orang yang di usia mudanya mengabaikan pelajaran berarti kehilangan masa lalunya dan mati untuk masa tuanya (Euripides)
.
Takut bertanya bearti malu belajar (peribahasa Denmark)
.
Guru yang biasa-biasa saja,mengajar dengan memberitahu. Guru yang baik,mengajar dengan menjelaskan. Guru yang unggul,mengajar dengan memberi contoh. Guru yang besar,mengajar dengan memberi inspirasi (William Arthur Ward)
.
Orang yang berani mengajar tidak boleh berhenti belajar (Richard Henry Dann)
.

Kamis, 05 Maret 2009

Nanti-nanti. . .

Q menanti sese0rang yang tak mau dinanti,yang tak tau dia sedang dinanti,karena mungkin dia tak mungkin ternanti...

Nanti-nanti,kalo dia tau aq menantikannya,aq kan beri penghargaan atas kepekaannya yang terlalu lama mengerti penantianku. . .

Nanti-nanti,kalo terbukti dia pantas ternantikan,dia akan mengerti kalo dia punya orang lain yang terlalu lama menanti kesadarannya akan penantianku...

Rabu, 04 Maret 2009

Penulis Tanpa Tulisan

Entah konyol, entah lucu atau entah apa, julukan “Bocah wagu” sering dilayangkan kepada gadis kelahiran 15 Maret 1992, yang bernama lengkap Anifatun Mu’asyaroh ini. Nama pemberian kakeknya yang cukup susah diucapkan, terbukti dengan adanya beberapa guru yang kewalahan mengejanya dan bahkan sering diplesetkan oleh teman-temannya menjadi animonster atau animaltun. Lahir dan besar di Kebumen, membuat gadis kalem yang biasa dipanggil Ani ini tetap adem ayem tinggal di kota yang sebenarnya makin terpolusi itu. Anak tertua dari tiga bersaudara ini, masih tinggal bersama kedua orang tua dan kedua adiknya di Karangsari RT 03/RW 03 Kebumen hingga detik ini.
Impian terbesarnya adalah menjadi seorang apoteker hebat dii masa mendatang. Hal inilah yang membuatnya meneruskan studi di SMA Negeri 1 Kebumen (SMANSA) setelah merampungkan pendidikan menengah pertamanya di SMP 1 Kebumen. Sekarang, ia terdampar di kelas XI METANA, salah satu kelas jurusan ilmu alam di SMANSA. Selain menjadi apoteker ia juga mempunyai keinginan menjadi seorang penulis setenar idolanya, J.K. Rowling. Namun, jarang sekali dia menulis sesuatu karena padatnya kegiatan sekolah dan faktor kemalasan yang tinggi. Bahkan, dia jarang mencatat pelajaran sekolah. Waktu luangnya lebih sering diisi dengan bermain hp, chatting dan main dengan teman. Sehingga, tak khayal baru beberapa cerpen saja yang berhasil dirampungkannya.
Penyuka warna ungu ini, mempunyai kegemaran membaca, menulis, menggambar dan berwisata kuliner di sekitar Kebumen. Hobinya yang terakhir inilah yang membuatnya tergabung dalam grup kecil “PiyiQuerr’s” yang mempunyai agenda rutin hunting makanan di akhir pekan. Ia paling suka makan mie ayam dan minum es campur.
Ani dikenal sebagai anak yang kalem (menurut orang-orang sebelum mengenalnya), wagu, baik, ramah, murah senyum, serta cinta alam dan kasih sayang sesama manusia. Anak pelupa dan agak lola ini paling suka jam pelajaran kosong, TIK, Biologi, dan Olahraga. Dia lemah pada mata pelajaran Fisika dan Matematika SMA yang sebenarnya dikuasainya dulu saat masih di SMP. Akibatnya, frekuensi kelulusan pada mapel tersebut dapat dihitung dengan lima jari.
Si jail yang jarang memperhatikan pelajaran ini paling benci kalau dibohongi, dicueki, disudutkan dan tidak dihargai. Baginya orang-orang yang berbuat seperti itu kepadanya tidak ada bedanya dengan hewan gastropoda yang amat tidak disukainya. Ia juga orang yang gampang menangis dan marah, tapi gampang pula redanya. Gadis berjilbab ini paling suka kalau disapa, diberi senyuman, dan dihargai. Momen-momen ynag paling menyenangkan baginya adalah saat berkumpul dengan teman atau keluarga. “You’ll never walk alone” adalah salah satu motto hidupnya yang telah membuatnya tetap teguh dan sabar saat merasa dicueki.